Posted by: dhanichagi | May 1, 2017

Ratjoenin Tetangga Gowes ke Sukamantri

Setelah tiba di Indonesia, alhamdulillah diberi kesempatan untuk tinggal di Jawa Barat yang deket banget dengan Sentul dan Bogor. Kenapa kok seneng begitu? Kan mending di Tanjung Barat yang letaknya di ibukota negara?
Ternyata dari rumah saya, hanya butuh 20 kilometer menuju titik start gowes ke Sentul dan ga sampe satu jam gowes ke Bogor. Mantab kan? :p

Suatu ketika, saya ketemu beberapa tetangga yang mau gowes. Setelah kenalan dan tukeran nomor hape, jadilah saya bergabung dengan whatsapp grup. Mulailah ratjoen nandjak disebarkan *big grin*

Beberapa waktu yang lalu, saya tebar ratjoen untuk gowes ke Sukamantri. Kenapa Sukamantri? Kok ga Sentul aja yang lebih nandjak friendly? Sukamantri merupakan trek spesial bagi saya. Beberapa teman termasuk saya sendiri mengalami suka duka nandjak di Sukamantri. Bahkan ketika pertama kali gowes ke Sukamantri, saya pernah bersumpah untuk ga akan nandjak lagi. Ternyata sumpah itu ga berlaku, saya malah keracunan nandjak :)) wkwkwk…

Etape 1 Menuju Ciapus

Pukul 6.15 kita bertemu di meeting point di depan rumah Om Venu. Tidak berapa lama, kita langsung meluncur menuju Bogor. Dimulai dari menyebrangi jembatan gantung Ciliwung, menelusuri jalan ke arah Stadion Pakansari, lalu menuju Jalan Raya Bogor. Awal perjalanan berjalan lancar, bahkan teman-teman semangat sekali gowesnya.  Dari rumah hingga Jalan Raya Bogor, jalanan menanjak landai dan tidak terlalu terasa berat. Ketika sampai Bogor, kita break sebentar untuk melemaskan kaki. Lanjut lagi dari Jalan Pajajaran untuk menelusuri Kebun Raya Bogor, Museum Zoologi, Empang dan menuju Ciapus.

Rute menuju pertigaan Camping Ground Sukamantri kita lalui dengan melewati Jalan Raya Ciapus. Di sini teman-teman sudah mulai keteteran dengan trek mendaki yang cukup terjal. Ditambah lagi banyak angkot yang ngerem mendadak, bikin kita kagok karena harus jaga jarak bahkan harus berhenti dan mulai gowes nandjak lagi..
Sering kali ditanyakan: masih jauh om? Lalu saya jawab: bentar lagi om, palingan sejam lagi sampe pertigaan.
Kemudian pertanyaan itu muncul lagi setiap jam hingga puncak Sukamantri :p hehehe…

Etape 2 Ciapus-Pertigaan Warung Tutup

Akhirnya setelah dua jam gowes dari Bogor, kita sampe di pertigaan Sukamantri. Molor satu jam dari rencana semula. Maklum, visa gowes yang terbatas membuat kita ketar ketir untuk sampai rumah tepat waktu.

Setelah istirahat beberapa puluh menit, kita lanjut tanjakan semi-offroad untuk menuju tandjakan makadam Kujang Raider. Awal tandjakan berupa aspal cukup mulus yang membentang hingga tak terlihat lagi ujung jalannya. Secara perlahan, rekan-rekan mulai tercecer hingga jarak yang cukup jauh. Bahkan Om Arif sudah menuntun dan ga mau gowes lagi, lebih kuat nuntun daripada gowes nandjak katanya. Kekeke…
Sampailah kita untuk beristirahat di peternakan JAPFA sebelum mulai jalan offroad aspal rusak.

Seingat saya, tahun 2013 ke Sukamantri bareng Abdoe dan Bertan, jalanan di sini sudah menjadi aspal mulus yang tidak menantang. Namun, kali ini jalanan jauh berbeda. Pemandangan jalanan yang rusak dan tampak seperti tahun 2006 mulai terasa setelah JAPFA. Sejujurnya, inilah jalanan ideal dan habitatnya MTB! Wkwkwk…

Ketika sampai di pertigaan warung tutup (dulu warungnya lebih sering tutup daripada buka), kita kembali istirahat. Om Arif melahap lima lontong dan efeknya sangat terasa. Doi ngaciiiiir di makadam hingga satu jam, lalu kemudian nuntun lagi 😦
Trek makadam mewarnai tandjakan menuju Sukamantri. Selain truk pengangkut pasir dan batu, banyak juga kendaraan roda empat dengan penumpang satu keluarga besar melewati kita. Ternyata Sukamantri sudah mulai tenar di masyarakat dan banyak yang berwisata serta kemping dengan keluarga.

IMG_20170416_110658[1].jpg

Etape 3 Makadam Kujang Raider-Camping Ground Sukamantri

Om Arif mempimpin tanjdakan di depan, sementara saya di belakang masih menjaga ritme gowes dan nafas. Om Venu sudah masih tetap gowes meskipun perlahan. Lambat laun kita mulai jumpa Kujang Raider, Om Arif tampak puas tiba di sini setelah pertanyaan “masih jauh ga om?” kerap dilontarkannya. Tidak berapa lama, Om Venu mulai terlihat sambil menuntun sepeda. Setelah wefie atau swafoto, kita kembali melanjutkan menuju kelok delapan (atau entah berapa kelokan saking banyaknya) makadam hutan Sukamantri.

Tampak pohon-pohon pinus besar yang lebat berdiri tegak menutupi jalan makadam. Hal ini membuat jalanan berbatu menjadi licin dan berlumut. Kita harus gowes berhati-hati agar tidak tergelincir. Belum lagi jika ada mobil yang akan papasan, terpaksa kita mengalah dan mempersilahkan mobil agar melaju terlebih dahulu. Diperjlanan tandjakan makadam, kita papasan dengan dua pesepeda touring yang menggunakan sepeda touring dengan dropbar. Kebayangkan gimana mereka berjuang menaklukan makadam dengan stang kayak gitu dan sepeda besi berat yang membawa tenda dan perlengkapan kemping lainnya. *sungkum ndlosor*

Masih jauh ga om?
Pertanyaan itu terdengar lagi. Tanggung om, itu udah keliatan pintu gerbangnya.
Sekarang masih jauh ga om?
Bentar lagi om, palingan dua belokan lagi.
Masih jauh ga om?
Bentar lagi om..
Kok jawabnya dari tadi bentar lagi mulu om? *komplen hehehe…

17991887_10155227473381719_7411887162692236778_n.jpg

 

Akhirnya kita sampe juga di Camping Ground Sukamantri setelah berjuang nandjak 35 kilometer dari rumah. Ternyata pengelola Sukamantri sudah berubah dari Perhutani menjadi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Bumi Perkemahan Sukamantri. Tiket masuk Rp.7500 tapi kami diminta membayar Rp.10000, untuk kebersihan toilet kata Kan Dani penjaga Bumper Sukamantri. Setelah itu kita santap siang, istirahat dan menikmati sejuknya perkemahan dengan ketinggian sekitar 850 meter di atas permukaan laut.

Etape 4 Camping Ground Sukamantri-Pulang

Menjelang Zuhur, kita kembali ke rumah dengan perjalanan turunan yang hanya 30 menit sudah sampe Kota Bogor,,padahal nandjaknya empat jam! Wkwkwk…
Perjalan pulang di Jalan Raya Bogor dilalui dengan gontai alias gowes santai dan sampe rumah pukul 15.00, molor dua jam dari rencana sebelumnya.

Puas banget bisa ngeratjoenin tetangga nandjak. Efeknya bikin kaki mereka pegel selama seminggu. Semoga bisa ngajak nandjak lagi klo visa memungkinkan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: