Posted by: dhanichagi | February 22, 2013

Interview-Road to ADS (2)

Ausaid

Mari kita lanjutkan cerita pengalaman perjuangan meraih ADS.
Puncak dari seleksi beasiswa ADS ialah interview dan tes IELTS yang diikuti oleh para shorlisted candidates. Dari 4118 pelamar beasiswa ADS, hanya sekitar 750 orang yang lulus seleksi berkas dan berhak mengikuti interview. Jadi sangat beruntung sekali klo kita sudah berhasil mencapai tahap inišŸ™‚

Pada tanggal 9-10 Januari 2013, saya melakukan tes IELTS di I/A/L/F. Walau tujuannya untuk mengukur kemampuan Ā bahasa Inggris peserta seleksi ADS tapi jangan anggap remeh tes ini. Hasil dari tes IELTS ternyata diinformasikan kepadaĀ penguji dari ADSĀ Joint Selection TeamĀ (JST). Sewaktu interview dijelaskan bahwa nilai writing saya rendah dan masih kurang untuk persyaratan universitas yang saya tuju (rata-rata syarat IELTS untuk masuk universitas minimal skor 6.5). *langsung nge drop…*
Saya belum pernah tes IELTS sama sekali, tes TOEFL juga cuma beberapa kali menjelang seleksi ADS. Waktu belajar pun sangat sempit karena pekerjaan akhir tahun yang sangat menyita waktu.
*ah le sun* hehehe…

Seminggu setelah tes IELTS, saya mengikuti seleksi yang paling menentukan, yaitu interview. Interview dilakukan oleh dua penguji dari ADS JST terdiri dari satu orangĀ profesor dari Australia dan satu orang lagi profesor Indonesia lulusan S3 dari ADS, satu orang perempuan dan satu orang laki-laki. Saat membaca jadwal interview, ternyata saya diurutan pertama!
Yak jadi inget ujian kompre sewaktu kuliah dahulu kala, urutan pertama juga.
Kita diperkenalkan oleh delapan orang profesor/doktor dari Australia dan delapan orang profesor/doktor dari Indonesia yang akan mewawancara para peserta.

Pewawancara saya ialah doktor dari Monash dan doktor dari Newcastle. Wah sewaktu baru masuk ga pake introductionĀ atau perkenalan basa-basi seperti apa yang saya baca di tips-tips dan pengalaman wawancara dari temen-temen atau dari internet. Padahal udah latihan dengan giat sampe komat-kamit di depan kaca dan di meja front office kantor :p
Doktor dari Australia langsung membaca dengan ringkas form aplikasi saya, mulai dari data diri, kampus sewaktu S1, dan pekerjaan.Ā Di terjemahan ijazah, tertulis bahwa saya lulusan Distance Learning University, namunĀ beliau tahu bahwa saya lulusan Universitas Terbuka. Wow ini menunjukan para pewawancara sudah mengenal dengan baik kampus bahkan tahu banyak tentang Indonesia.

Pertanyaan pertama sangat cetar membahana:Ā apakah kamu lulusan tertinggi di kampus? *wakwaw*
Saya bingung mau jawab apa, secara di UT ga pernah punya temen satu jurusan. Di wisuda pun gabungan seluruh mahasiswa se-Indonesia dari seluruh fakultas. Tapi saya coba untuk menjawab dengan bijak bahwa saya tidak tahušŸ˜€ Akan tetapi saya merasa bahwa saya telah berbuat yang terbaik dan puas akan hasil yang dicapai.

Pertanyaan selanjutnya mengenai korelasi antara latar belakang pendidikan, pekerjaan saat ini, dan jurusan yang akan di ambil ketika kuliah di Australia.
Kebetulan pendidikan saya dari D3 dan S1 mempunyai korelasi yang bisa dikaitkan dengan pekerjaan (secara D3 di kampus plat merah) lalu program master yang akan saya ambil merupakan ilmu dari pekerjaan saya saat ini. Jadi tinggal kita memainkan kata-kata dalam menjawab dengan singkat dan tepat sasaran.

Kemudian bertanya tentang deskripsi pekerjaan yang saya tulis di form aplikasi. Mungkin pewawancara masih awam tentang istilah baru di institusi saya, jadi saya jelaskan sedikit tentang pekerjaan yang saya lakukan.

Kontribusi individu yang telah dilakukan dan akan dilakukan setelah selesai kuliah S2.
Wah klo pertanyaan ini saya coba jawab segala hal yang telah dan akan dilakukan dari institusi. Ternyata beliau bilang, itu kan inovasi dari institusi anda, lalu apa yang pribadi anda lakukan?
Berkelit mencari 1001 jawaban yang konkrit. *lapkeringet*

Pilihan universitas dan jurusannya apa yang akan dipilih?
Disini saya jelaskan secara panjang dan lebar, gamblang karena udah memprediksi pertanyaan ini akan keluar. Dilalalah malah di cut, jawaban terlalu panjang dan terlalu lebar. Kekeke…

Apakah setelah anda ingin kembali ke institusi setelah selesai kuliah di Australia?
Udah jawab panjang-panjang, malahan di cut, katanya tolong jawab: yes or no?
(patut jadi perhatian, beberapa pertanyaan memang hanya butuh jawaban yes or no)

Reduce corruption.Ā Ditanyakan pula peran dalam mengurangi korupsi secara individu.
Kebetulan institusi tempat saya bekerja sudah mengalami reformasi birokrasi dari tahun 2007. Saya jelaskan pula pengalaman-pengalaman percobaan gratifikasi dan bagaimana kami menjaga integritas.

IssueĀ terkini tentang ilmu pengetahuan yang akan saya ambil?
Disini saya ambil contoh isu terkini, seperti isu tentang korupsi Hambalang dan kaitannya dengan pengelolaan Keuangan Negara.

Buku atau artikel apa yang telah dibaca terkait dengan studi yang akan diambil.
Kebetulan saya pernah baca sekilas handbook tentang jurusan yang akan saya ambil. Kemudian saya juga pernah dikirimiĀ jurnal yang ditulis oleh pejabat di kantor pusat mengenai sistem keuangan di beberapa negara dan yang akan digunakan di Indonesia.

Sekitar 10-20 tahun kemudian, mau ngapain?
Jawabannya standard, pasti mau jadi pemimpin yang memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan dan kebijakan di Indonesia (kasih bumbu-bumbu sedikit supaya gurih).

S3 nanti mau ambil research topic apa? Detailnya?
Kaget juga dengan pertanyaan ini, karena saya apply master by coursework. Lagi pula S1 saya ga pake skripsi. Nulis paling banyak sewaktu kuliah D3. Hehehe…

Kemudian saya diberi masukan tentang nilai writing saya yang rendah, dan kendala yang akan dihadapi di kelas jika saya kuliah di Australia. Saya harus latihan menulis, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan dan pendidikan saya. Kemudian saya dijelaskan situasi belajar di Australia nanti, bahwa teman-teman kamu lebih tahu berbagai macam teori. Sedangkan kamu kekurangan ilmu akan teori dan lebih banyak di praktek.

Kesimpulannya interview berjalan dengan cukup tegang. Beberapa kali saya gugup dalam mengucapkan kata. Pewawancara dari Australia lebih banyak bertanya dengan cukup agresif. Serasa lagi di sidang beneran. Jawaban-jawaban saya dikejar dan digali lebih dalam. Bahkan beberapa kali jawaban saya di potong karena saya menjawab terlalu panjang, padahal inti dari jawaban saya belum dikeluarkan semua (ciri khas orang kita yang ngalur ngidul dulu baru kemudian jawab intinya:p).
Pelajaran yang bisa dipetik, jawaban harus singkat, jelas, langsung pada intinya. Percaya diri, yakin akan jawaban kita, mengerti hal yang ditanyakan dan tahu apa yang kita jawab, tahu apa yang kita tulis di form aplikasi, dan ga ada jawaban mengambang. Semua harus dijawab dengan yakin!

Harus yakin kita pasti bisa! Ini bukan soal tingkat kecerdasan tapi lebih ke apa yang akan kita ambil, kontribusi, dan manfaatnya bagi Indonesia dan Australia.
Selamat berjuang kawan!šŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: