Posted by: dhanichagi | April 13, 2012

Penggojlokan Praja Abdu: Jakarta-Bandung #3

Praja Abdu dengan jersey kebanggaannya masih bisa tersenyum menjelang start

Setelah dikompor-kompori oleh Praja Abdu, akhirnya saya berhasil mendapatkan visa touring ke Bandung setelah 4 tahun lamanya!
*horeee*

Kenapa judulnya Penggojlokan Praja Abdu?
Karena hanya dia yang belum pernah touring Jakarta-Bandung via Cariu. Sedangkan Praja Jali, Bro Lita, dan Dosen terbang Eko Cimanggis sudah khatam jalur tersebut.
Saya sendiri sudah pernah melalui jalur ini pada 17 Agustus 2007 dan terakhir kali tahun 2008.

Oia kenapa Praji Lita dipanggil Bro?
Menurut Purek 1PDN, Ramadhani Achdiawan, di milis 1PDN@yahoogroups.com:
Lita sama Intan TOP Banget, udah didaulat jadi Bro.
Bro adalah award tertinggi bagi praji… atas prestasi menyalip para praja, kekekek…
Berarti di 1PDN sekarang sudah ada Bro Rahmi, Bro Lita dan Bro Intan…


Start McD Cibubur 6.15-Masjid Kubah Hijau 9.20

Janjian pukul 5.30, ternyata hanya saya yang ngaret:p (sori ya kawans, padahal udah dianter bini tercinta:*)
Akhirnya saya baru datang pukul 6 kurang😀
Ketika sampai parkiran McD, tampak Mitsubishi Kuda & Helios Praja Adit serta Bro Intan yang lagi mutar muter pake sepeda carbon Om Marta.
Ternyata kita ga ada yang tau klo Bro Intan akan datang ke Cibubur untuk menemani sampai Masjid Kubah Hijau bareng Praja Adit.

Setelah pemanasan dan berdoa, touring kita mulai!
Perjalanan dari Cibubur diwarnai oleh insiden pannier saya yang jatoh dua kali. Alhamdulillah tidak mengakibatkan hal yang tidak dinginkan (baca: jatoh)

Beberapa kali kita pitstop kecil untuk buang air kecil dan beli makanan kecil.
Di etape ini, kami berpapasan dengan beberapa pesepeda yang touring ke Bandung. Pertama bertemu dengan om dari Tebet yang menggunakan sepeda tua Boston USA. Sepedanya klasik dan keren!
Oia beliau baru pertama kali gowes ke Bandung tapi dilihat dari penampilannya, tampak om ini cukup lama malang melintang di dunia sepeda.
Kemudian papasan pula tiga orang pesepeda yang membalap kami di Masjid Kubah Hijau.

Pitstop 1: Masjid Kubah Hijau

Pitstop 1 Masjid Kubah Hijau

Etape Cibubur-Cileungsi-Masjid Kubah Hijau relatif datar dengan pemandangan hamparan pematang sawah serta sedikit mobil yang lalu lalang.

Beberapa kali kita menikmati tandjakan yang lucu tapi itu tidak masalah karena tandjakan sesungguhnya belum kami lalui, yaitu Tandjakan Cariu dan Padalarang!

Akhirnya setelah mengalami kejenuhan gowes tiga jam, sampai juga kita di Masjid Kubah Hijau!
Sebenarnya nama asli dari masjid ini ialah Masjid Raya Raudhatul Faizin. Karena mempunyai kubah berwarna hijau, maka kami menyebutnya Masjid Kubah Hijau (jadi ingat Masjid Nabawi yang juga memiliki kubah hijau)

Kita berhenti di warung depan masjid, tidak begitu lama tampak teman-teman yang lain mulai berdatangan. Kami pun memesan sop iga, sayur asem dan lauk pauk lainnya sebagai menu sarapan kami.

Sekitar pukul 10.20 Praja Adit dan Bro Intan pamitan untuk kembali ke Cibubur, sedangkan kita kembali bersiap untuk melahap Tandjakan Cariu!
#aheeey..
*muka cemas*

Kenapa muka cemas?
Tahun 2008 melahap Tandjakan Cariu naik Kanondel dengan group set XT dan selalu pake granny (gigi yang paling ringan) sampe dua kali istirahat karena hampir kram.
Apalagi kali ini pake sepeda UCC cromoly seberat 15 kg, groupset campur aduk antara Deore sampe Tourney 8 speed pula!
xixixi…

UCC cromoly. Mudik bang?

Satu per satu kita meniti Tandjakan Cariu. Tampak di sebelah kiri jalan sedang beristirahat tiga pesepeda yang membalap kami di Masjid Kubah Hijau. Ouch ada yang kram tampaknya. Hanya menyapa dan saling melambaikan tangan, kita kembali gowes nandjak.

Sengatan matahari dan pantulan dari beton yang panas membuat keringat bercucuran. Tak terasa jersey 1PDN basah kuyup dengan keringat. Sedikit hiburan di Tandjakan Cariu ini, yaitu berupa jalan yang tadinya aspal rusak, namun sekarang berubah menjadi muluss!

Jaman dulu kesel banget klo ada truk atau bis yang jalan pelan karena jalan rusak. Mau nyusul truk tapi ga mungkin juga karena kaki ga bisa lagi diajak ngebut, sedangkan klo tetep beriringan dengan truk bisa kenyang makan asap knalpot dan debunya😛

Perjalanan kali ini sangat ajaib!
Saat keringat bercucuran, sempet-sempetnya saya kebelet pipis pas tandjakan.
*tepok jidat*
Total Jakarta-Bandung, saya pipis 18 kali sodara-sodara…

Bro Lita dan Praja Jali, gowes satu paket😀

Dari belakang saya amati Praja Jali dan Bro Lita. Mereka terlihat sangat kompak. Gowes ngicik sepanjang jalan dan saling support. Setelah itu di  kejauhan tampak Praja Abdu yang gowes ngicik baru setengah perjalanan dari lima kilometer Tandjakan Cariu, kebosanan mulai melanda.

Tanda-tanda orang bosan, biasanya nanya: “Tuk, masih jauh ga sih?”😀
hehehe…

Praja Abdu dari kejauhan

Waktu menunjukan pukul 11.00, tampak beberapa pria berjalan kaki dengan sarung dan baju koko mengingatkan saya untuk bergegas menuju Puncak Cariu untuk menunaikan ibadah Salat Jumat.
Tiga tower BTS dan pepohonan pinus menandakan Puncak Cariu sudah dekat. Namun, godaan untuk turun dari sepeda dan memulai TTB sangat besar. Hingga di tandjakan terakhir yang berkelok, saya mengeluarkan seluruh energi untuk sampai di puncak.

Pitstop 2: Salat Jumat di Cariu

Dosen Eko Cimanggis sedang asyik menyeruput teh manis di warung Puncak Cariu. Sementara saya terengah-engah berusaha mengatur nafas yang sudah ngak ngik nguk…
Ternyata ada sebuah masjid setelah Puncak Cariu. Ikuti jalan yang menurun, sekitar 400-500 meter terdapat sebuah masjid kecil di sebelah kanan jalan.

Kemudian kita beristirahat di warung sebelah masjid dengan ubin keramik yang dingin. Nikmaaat…

Salat Jumat @ Puncak Cariu, Praja Abdu dari Hadramaut, Yaman

Niat untuk tidur pada saat khutbah Jumat pupus sudah. Seperti masjid lain di sekitar Jawa Barat, khutbah Jumat di masjid Cariu menggunakan bahasa Arab dan cukup singkat. Sekitar 10 menit khutbah selesai dan kita mulai menunaikan salat Jumat.

Selesai salat, kita kembali beristirahat melepas lelah energi yang dikuras oleh Tandjakan Cariu. Sekitar pukul 13.30 kita bersiap, mengisi b-don, dan mulai gowes menuju Cianjur.

Terjebak Hujan di Cianjur

Kirain turunan, ternyata masih ada tandjakan-tandjakan yang harus dilalui:p
Sori ya Dultuk, saya salah prediksi:D
Tapi setelah itu, turunan pun tiada hentinya membawa kami hingga jalan datar masuk Cianjur.

Pukul 15.10 diputuskan untuk segera makan siang, karena cacing-cacing diperut pada protes minta makan. Lapaaar….
Berhenti di warung padang, langsung kita santap nasi padang.
Ya iyalah, masa makan nasi jamblang? #eaaa

Begitu kita makan, hujan turun dengan derasnya.. Pas banget ya?
Selesai makan, hujan masih turun. Sejam kemudian hujan berhenti, segera kita kembali memulai perjalanan.

Jembatan Citarum

Yah baru aja beberapa puluh menit gowes, hujan turun kembali. Padahal baru masuk perbatasan Kabupaten Bandung Barat. Dengan pertimbangan perjalanan yang masih jauh, kita putuskan untuk menepi dan berteduh di teras rumah penduduk sambil menunggu hujan reda.

Main smackdown kaki dulu. Klo dah akad nikah, baru smackdown beneran:p *eh

Sejam berlalu, hujan belum reda juga…
Mulai mati gaya, dan terbesit keinginan membuka sleeping bag untuk meluruskan kaki dan memejamkan mata.
Hingga hampir Maghrib, sekitar pukul 17.45 hujan akhirnya berhenti dan kita kembali memulai perjalanan ini.
Oia baru 15 menit gowes, saya kebelet lagi:D
Mampirlah kita ke pom bensin terdekat kekeke…
Lampu depan dan belakang dinyalakan, dan kita menelusuri Kabupaten Bandung Barat menuju Padalarang. Cuss…

Nite Ride di Tandjakan Padalarang

Nite ride.
Suatu hal yang saya tidak suka.
Dikala badan harus istirahat, tetapi kita memaksakan diri untuk berolahraga malam hari.
Well nite ride #nandjak Padalarang, here we come!

“Tuk, ini mulai #nandjak Padalarang ya tuk?”, sahut Praja Abdu.
Yoi, tandjakan Padalarang ga kerasa awalannya. Hanya satu kali nandjak panjang, jalan datar dan selanjutnya tandjakan-tandjakan berkelok seperti tandjakan di Puncak.

Semakin tinggi kita menandjak, jalanan semakin sepi dan gelap gulita. Hanya lampu sepeda yang menemani di kegelapan jalanan yang berkelok.

Ketika menengok ke belakang, ternyata Praja Abdu tertinggal cukup jauh. Lampu Dosun yang terang benderang di handle bar Giant Trance nya sudah berkedip pelan. Praja Abdu sudah biasa #nandjak di sekitaran Bogor sejak 2009, namun baru kali ini touring jauh dengan tandjakan yang cukup melelahkan.
Kita break sejenak dan ganti formasi, Praja Abdu di depan dan kita mengikuti di belakang.

Bro Lita tetap sabar ngicik tepat di belakang Praja Jali.
Efek latihan #21Srikandi sudah terlihat. Dilatih oleh Om Marta Murfeni dan Om Taufik Hidayat dari IBA (Indonesian Biking Adventure) telah merubah gowesan Bro Lita jadi ngicik dan tahan lama.
*eh nangkep maksud kalimatnya jangan beda ya!* :p

Di Tandjakan Cariu dan Padalarang ga minta istirahat. Padahal bro Lita terakhir ke Cariu sempat istirahat dan di Padalarang kena efak.
Perkembangan cukup signifikan bukan?

Sepanjang jalan nampak warung remang-remang seolah-olah memberi semangat Praja Abdu untuk terus menandjak. Kaki kiri yang kram membuat Praja Abdu gowes satu kaki hanya dengan kaki kanan.
Klakson tukang roti pemberian Om Inu Febiana selalu saya bunyikan di Tandjakan Padalarang untuk menggoda teteh memberi semangat Praja Abdu. Ayo tuk!

Dultuk kram tapi bukan di warung remang-remang:D

Kram yang tak tertahankan lagi membuat kami kembali berhenti. Setelah dioleskan berbagai macam balsem dan minum Pocari, kami kembali gowes.

Kita semua ga ada yang tahu apa patokan dari puncak Tandjakan Padalarang. Jadi kita terus gowes hingga ketemu beberapa truk pengangkut pasir, dan banyak pedagang peyem dipinggir jalan.
Beberapa kilometer terakhir, Praja Abdu di dorong oleh Praja Jali dengan tangan kirinya. Melesatlah mereka berdua meninggalkan saya, Bro Lita, dan Dosen Eko dibelakang. Bahkan Praja Abdu pun yang didorong Praja Jali ga gowes sama sekali saking kencengnya:p
xixixi…
Saya berusaha mengejar mereka berdua tapi sulit! Ga terkejar juga:(
Pantesan Jali bisa rekor 8,5 jam JKT-BDG beberapa waktu yang lalu.
*prok prok prok*
*suara tepuk tangan di komik Kung Fu Boy*

Akhirnya turunan tiba, kami pun meluncur menuju kota Cimahi.
Wuiiiiiii….

Lontang Lantung di Bandung

Kami masuk kota Cimahi sekitar pukul 20.00 dan berhenti untuk makan malam di pecel lele.
Baru kali ini ngeliat Praja Abdu makan ga diabisin. Biasanya makan paling cepet, nambah pula. Bahkan bayi lele dan rebung di Batu Tapak habis tak tersisa.
Cuaca dingin menusuk tubuh, saatnya pake jas hujan Indomaret untuk menembus dinginnya Cimahi-Bandung.

Sekitar pukul 22.00 kita masuk Bandung dan gowes terus menuju stasiun. Kaget juga ketika disekeliling kita banyak gadis-gadis malam #eaaaaa

Bro Lita kedinginan disengat udara malam Kota Bandung

Semua penginapan penuh, lalu kita ditawari sebuah penginapan Rp.40ribu untuk dua orang per malam. Ini per malam atau per jam??
Karena ragu, kita memutuskan untuk lanjut gowes dan nyari penginapan di sekitar stasiun. Beberapa kali kita mampir ke penginapan dan selalu penuh. Dapat kamar yang kapasitas 6 orang tapi harganya tidak bersahabat dengan kantong:(
Rejeki memang ga kemana. Di kala kita kebingungan nyari penginapan, Om Heru, kawannya Dosen Eko menawarkan untuk menginap di rumah mbahnya di daerah Jalan Tongkeng.
Alhamdulillah… ga jadi nginep di stasiun KA beralaskan sleeping bag😀

Pukul 23.00 kita sampai di rumah mbah Om Heru, walau sempat nyasar dan akhirnya dijemput sama Om Heru:p
Kita semua di jamu seolah-olah kawan yang sudah lama kenal. Disuguhi teh manis hangat dan kue-kue pula.
Thx a lot ya buat Om Heru dan keluarga🙂

Menginap di Bandung

Pukul 12 malam kita terlelap dan kembali bangun tepat adzan Subuh untuk kembali bersiap pulang ke Jakarta.
Setelah pamit, kita meluncur ke stasiun Bandung. Terlebih dahulu kita harus menukar struk Indomaret tempat dimana kita membeli tiket, dengan karcis asli PT KA di loket stasiun.
Loading sepeda ke kereta dan nego harga dengan kondektur kereta, akhirnya kita sepakat untuk membayar Rp.10ribu/sepeda.
Bagasi kereta sangat lebar dan ada kerangkengnya. Semoga aman sampe Jakarta:)

Stasiun Bandung pukul 5.30 pagi

Semua terlelap di kereta, bahkan Praja Abdu baru bangun ketika sampai Bekasi. Sesampainya di Gambir, kita semua bergegas menuju gerbong barang dan menurunkan sepeda.
Dosen Eko lanjut pulang dengan KRL Commuter line menuju Depok, saya nebeng mobilnya Praja Abdu, sedangkan Praja Jali dan Bro Lita gowes lagi ke Petukangan…
*ampun dah!*

Total perjalanan kurang lebih 144 kilometer, maklum ga nyalain ondemande,,irit batre:p

Terima kasih buat Om Heru dan keluarga, Dosen Eko, Praja Abdu, Praja Jali, Bro Lita, Praja Adit, dan Bro Intan.
Semoga saya dapet visa untuk touring lagi.
*lirik @wialfarina*
xixixi….

This slideshow requires JavaScript.


Responses

  1. next turing gamau pake trance lagi😀 (fullsus masak buat turing)

    • Jual sepedanya tuk! Ganti cromoly. Miyata pasangin groupset MTB😀

  2. Revisi oom..pertama kali Cariu saya evak di pertengahan tanjakan Cariu😀 ..lanjut gowes lagi dan di evak masuk daerah mana yah..yg mau arah rajamandala dan sampe tujuan:D hehe. Udah evak males gowes lagi ternyata :))

    • Wuiiih ternyata Cariu ke evak tho?:p Berarti sekarang mengalami kemajuan yang sangat pesat kuadrat *halaaaah*

      • Pesat sih ngga om, sepedaan seminggu sekali ngaruh juga buat touring. Bandung part1 saya udah 3 bulan ga sepedahan😀 Gak heran kalau akhirnya dapet bonus kram kaki hihi

  3. Haha, judulnya tetep ini ternyata. Ngulang ngulaaaang… nyook.🙂

  4. ayok.. masih penasaran nih kemaren

    • Yuk, sepeda gw dah rigid nih. Tinggal visanya aja yg harus diurus:p

  5. bayar brp sepeda di kereta om?

    • langsung ketemu kondekturnya nego harga Rp.10ribu/sepeda. Bayar pas turun di Gambir🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: