Posted by: dhanichagi | February 20, 2012

Sentul-KM.0-Cilember-Cupang-Tepar

Well judul postingan yang aneh. Kenapa ke Cupang doang bisa tepar?
Yak karena kita lewat tandjakan bertubi-tubi di KM.0 dan Cilemberrrr…

Sekitar pukul 6 lewat dikit saya berangkat ke rumah Om HPW. Setting sepeda dulu, lalu kita meluncur ke Sentul.
Dari Tanjung Barat cuaca sudah gerimis, akan tetapi di Tol Jagorawi malah makin deres😦

Sesampainya di Sentul pukul 8, hujan masih cukup deras. Di Sentul sudah tampak Om Adit, Om Jali, Tante Lita, dan Tante Intan Satria. Sembari nunggu hujan sedikit reda, kita setting sepeda Tante Intan dulu. Polygon RX 3.0 carbon composite!
Walau lungsuran dari kakaknya, tetep aja sepeda carbon *lapiler*

FYI: kakaknya Tante Intan Satria itu ternyata Om Marta, MTB World Cup Champion 1995!

Sentul-KM.0: 1 jam

Pukul 9.10 kita melangkahkan pedal menapaki Sentul hingga KM.0.
Berjalan perlahan sambil pemanasan sambil menikmati udara segar Sentul. Om HPW, Om Adit, dan Om Jali ngacir duluan setelah Taman Budaya.
Sementara saya paling belakang jadi sweeper.
*padahal ga kuat ngebut*

Tante Lita dan Tante Intan kuat juga di etape ini. Cukup istirahat sekali dan bisa finish di tugu KM.0 pukul 10.
Di warung KM.0 kita sarapan atau lebih tepatnya brunch. Menunya sangat sederhana: dadar telur, terong balado, dan lalap daun singkong:D

Setelah ngobrol cukup lama, baru ingat ternyata Tante Intan Satria adalah salah satu srikandi yang gowes Jakarta-Palembang dalam rangka menyambut Sea Games 2011 lho…
Edun euy!

http://regional.kompas.com/read/2011/11/10/13151131/Tiga.Srikandi.Buktikan.Ketangguhannya


KM.0-Mega Mendung

Dari KM.0 kita nandjak lagi lurus terus ke arah perempatan Kampung Awan. Diawali jalanan aspal lalu turunan panjang menuju jalan offroad yang baru di semen.
Awal tandjakan semen ini tandjakan yang cukup curam. Lumayan bikin jantung berdebar. Kemudian kita melalui pertigaan: belok kiri jalan tembus menuju perempatan Kampung Awan, dan lurus untuk jalan memutar tapi lebih landai.

Om Adit dan Om Jali memutuskan menguji dengkul mereka untuk melewati jalan tembus yang berupa tandjakan curam makadam dan tanah. Sedangkan saya, Om HPW, Tante Lita, dan Tante Intan memilih jalan memutar.
Amazing!
Setelah beberapa kali percobaan, Om Jali berhasil lulus!

Tandjakan berakhir disini, selanjutnya turunan curam makadam dan tanah. Pilih mana: turunan tanah yang licin atau batu-batu makadam yang juga tak kalah licin?
Dua-duanya ga enak, serem….
Siap-siap posisi turunan: pantat dibelakang, tangan pegangan erat ke handlebar.
Sepeda ini ga pake quick release seatclamp, jadinya ga bisa seenak hati turunin sadel deh:p

Turunan ini ternyata nembus ke Mega Mendung dan masuklah kita menuju tandjakan selanjutnya: Tandjakan Cilemberrr…

Cilember-(nyaris) Paseban

Nah ini dia klimaks dari perjalanan kita kali ini. Kenapa ada dalam kurung nyaris? Karena nafas kita habis di Tandjakan Cilember, belum masuk ke Tandjakan Paseban yang fenomenal #tssaaahhh…

Ini dia Tandjakan Cilember. Tandjakan dengan persentase kemiringan mencapai 28%!
Tandjakan ini berupa aspal tapi panjaaaaang!
Gambar mobilnya aja sampe miring jengkang begitu. Gimana penumpang didalamnya yak?:D

Dari Mega Mendung, kita ke Cilember lewat Jalan Raya Puncak. Menelusuri Jalan Cilember dan belok kiri di Jalan Madrasah (lupa-lupa ingat nama jalannya).
Disinilah siksaan itu dimulai…
Awal tanjakan yang berkelok, dibayangin pun udah ga bisa mikir apa sanggup menaklukan tandjakan aspal itu?
Yak ternyata sanggup!
Dan harapan bisa lulus tandjakan Cilember pun tinggal kenangan karena kelokan selanjutnya siap menghadang tandjakan yang lebih curam…

Mungkin sekitar tiga belokan terdapat tiga tandjakan panjang dan tajam. Setelah itu baru menemui jalan mendatar dan dilanjutkan tandjakan yang sangat curam dan panjang menjelang jalan makadam. Tandjakan Cilember terakhir ini diharuskan mengerahkan segala kemampuan. Bahkan pake granny pun tetap bersusah payah…

(Nyaris) Paseban-Curug Panjang

Jalan menandjak yang landai mewarnai awal dari medan makadam. Begitu menemui makadam yang cukup curam, Tante Lita dan Tante Intan memulai TTB dan TTB lagi di turunan berikutnya hingga pertigaan menuju Curug Panjang. Nampaknya srikandi-srikandi sudah out (istilah yang saya gunakan untuk seseorang yang sudah capek:p).

Waktu sudah menunjukan pukul 14.00. Kita pun memutuskan untuk belok kiri menuju Curug Panjang.
Tampaknya Tandjakan Paseban tertunda dulu ya🙂

Sayang kabut tebal menutupi pemandangan di atas Curug Panjang ini. Di ketinggian sekitar 1000 meter diatas permukaan laut, pemandangan dibawahnya sangat indah jika cuaca tidak berkabut.
Foto-foto dulu disini dan kita pun melanjutkan ke Curug Panjang dan bersantap siang dengan menu yang lebih sederhana dibandingkan di KM.0: Indomie rebus!

Sejak akhir tahun 2008 saya memutuskan menghindari makan mie instant, dan tampaknya ikrar tersebut pupus ketika di Paseban dan Curug Panjang. Daripada nyiksa diri kelaparan, mending makan apa menu yang ada😀
hehehe…

Curug Panjang-Sentul

Perjalanan pulang diputuskan untuk melalui Mega Mendung-Jalan Raya Puncak-Gadog-Cijayanti-Sentul.
Padahal jika kita lewat KM.0 bisa lebih cepat, tetapi kebayang tandjakan-tandjakan yang harus dilalui untuk mencapai KM.0.
Kita belok kanan di Gadog menuju Sarimande dan menelusuri jalur pinggir tol. Cukup mengasyikan jalur pinggir tol single track aspal rusak, walau jarak yang ditempuh lebih panjang 10 km:p
xixixi…

Total perjalanan sekitar 52 km. Aspal mulus, single track tanah, makadam, dan tentunya tandjakan demi tandjakan!
Terima kasih kepada Om HPW, Om Adit, Om Jali, Tante Lita, dan Tante Intan. Semoga ga kapok atas sajian yang saya berikan dan sampai jumpa dua minggu lagi!🙂

This slideshow requires JavaScript.

p.s.: Foto oleh Om Rizal Utara


Responses

  1. Wah sudah lama gak mengikuti jamaah nanjak…
    Kapan2 kalau mau nanjak lagi kabar2i ya om…
    Pengin ngkut

    • Wah mohon maaf om kemarin ga woro2 di milis. Soale janjiannya lewat twitter:p hehehe… Next time ok!

  2. […] XTC FR. Rencana awal ke Paseban tapi dialihkan ke Curug Panjang. Catatan perjalanannya bisa dilihat di sini. Kesimpulannya XTC FR sangat enak buat nandjak! Puas banget! Size 18″ ternyata cocok dengan […]

  3. Mantab, ikutan gabung dong om.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: