Posted by: dhanichagi | January 12, 2012

Puncak Pass RA Klasik

Postingan pertama di 2012!
Ini sebenarnya trip Desember 2011 sewaktu cuti bersama Natal yang digunakan untuk menjajal UCC Chromoly di medan turunan Puncak Pass, RA Klasik.

Kesimpulannya: Mantaaaab!

Menembus kabut pukul 13.30

Pukul 6 pagi, saya dan Om Abdu nebeng mobil hodfreednya Om HPW menuju Gadog dan kemudian nandjak ngangkot  menuju Puncak Pass.
Hmmm… sebenernya aib besar ketika ngangkot untuk nandjak, angkot hanya ‘dihalalkan’ ketika turunan :p
xixixi…

Sesampainya di Warung Mang Ade, Puncak, pukul 7.30 dan kami sarapan nasgor sambil siap-siap melahap turunan dari Puncak Pass sampai  Gadog offroad!
Tak disangka bertemu rombongan Om Rivo, Om Zay, Om W Thok, beserta kawan-kawan bergabung.
Berdoa dan briefing oleh Om H.HPW, dilanjutkan meluncur satu per satu di makadam.
Saran dari Om Abdu untuk menurunkan sadel saya turuti. Ternyata benar, turunan demi turunan menemani perjalanan kita hingga Gunung Mas.

Briefing sebelum melahap turunan

Karena sadel yang diturunkan sekitar 7 cm membuat handling lebih nyaman di kala turunan. Tetapi terasa berat ketika jalan mulai menanjak.
Frame UCC chromoly dipadu dengan Rockshok Reba empuk banget diturunan makadam. Setidaknya lebih empuk dari frame alloy.
Anehnya frame Cannondale F3000SL yang materialnya alloy, sama empuknya dengan frame chromoly ini.
Selain empuk, berat frame+headshok Cannondel masih lebih ringan dari UCC chromoly frame only!
Iyalah harganya aja 10x lipatnya UCC :p
xixixi….

Nyesel jual Cannondale? Hmmm….

Setelah melewati turunan makadam, kita lanjut gowes ke arah single track bak kontrol yang sudah amblas terkena gerusan sepeda.
Turunan-turunan single track tanah dapat dilalui dengan lancar. Ada beberapa jalur yang sudah hancur kena jalur air dan terpaksa kita harus gotong sepeda

Jalur single track yang tergerus arus air

Turunan makadam campur jalur tanah yang telah hancur pun tidak dapat dilalui.
Sepeda AM dengan travel belakang 6 inch aja angkat tangan :p

Om H.HPW sebelum turunan makadam campur single track yang bikin jiper

Singkat cerita, akhirnya kita nembus ke Gunung Mas setelah melalui turunan demi turunan makadam dan single track.
Istirahat cukup lama di Gunung Mas, lalu kita lanjut ke arah Taman Safari.
Sadel sudah dinaikan, lanjut melalui tandjakan makadam…
Lumayan bikin ngos-ngosan walau tak sampai keringetan. Disini rombongan terpencar,,,
ketauan deh hardtail yang paling juara di medan tandjakan meskipun makadam :p


Kita istirahat (lagi) sebelum masuk Tandjakan Ngehe, tepatnya di pintu masuk Taman Safari.
Isi b-don, beli Pocari Sweat, minum Fatigon Hydro, makan Biskuat dan pisang. Saatnya melahap Tandjakan Ngehe!
Disertai iming-imingan bocah-bocah joki di tandjakan, pelan-pelan kita lalui tandjakan semen mulus yang panjaaaaang…
Kok setelah di semen, Tandjakan Ngehe jadi makin panjang ya?
Perasaan ga ada abis-abisnya😦

Om Abdu di akhir Tandjakan Ngehe

Setelah semen mulus, mulailah tanjakan makadam. Karena jalan batu-batu makadam sangat licin, terpaksa saya nuntun juga :p (ah le sun)

Motor aja nuntun :p

Makadam ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan single track tandjakan tanah yang licin dan sudah habis tergerus ban-ban ojeg motor😦
hebat juga tuh tukang ojeg bisa melalui medan seperti ini sambil ngebonceng pula

 Lagi asyik-asyiknya nandjak, tiba-tiba ada telepon dari Om HPW. Beliau mengabari bahwa temen-temen yang lain ga lewat Ngehe 1, melainkan belok kanan di Ngehe Setengah *tepok jidat*

Hanya saya dan Om Abdu yang lewat Ngehe 1 dan kita pun regroup di saung perkebunan teh setelah terlebih dahulu melahap turunan makadam yang bikin tangan dan bokong bergetarrrr… _nasib hardtail_

Cukup lama kita beristirahan di saung terakhir ini, dan perjalanan dilanjutkan dengan tandjakan landai makadam yang cukup menguras tenaga.
Saya, Om HPW, dan Om Abdu berjalan nandjak beriringan, sementara teman-teman yang lain tertinggal di belakang.
Memasuki daerah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, jalan relatif menurun.

Jalan tanah yang becek karena hujan cocoknya memang untuk ngebut. Hardtail chromoly bisa mengimbangi sepeda-sepeda fulsus lainnya.
Suasana rindang taman nasional serta kabut tebal membuat jarak pandang yang sangat terbatas. Padahal sudah pukul 13.30 lho,,,
gambar paling atas

 Saking asyiknya ngebut, sampai ga ngeliat ada kubangan lumpur. Langsung kita hajar dan hasilnya sepeda mampet di lumpur yang cukup dalam😀

Kembali melanjutkan perjalanan setelah membersihkan rantai yang mampet penuh lumpur, dan kita akhirnya menjumpai jalan makadam dan menuju jalan aspal menuju Gadog.

Sebenarnya perjalanan singkat hanya 30 km tetapi karena banyak rombongan, akhirnya pukul 14.30 baru finish di Gadog.

Puncak Pass RA Klasik sangat layak dijadikan tempat gowes yang asyik saat musim hujan.
Walau sepanjang jalan keujanan, akan tetapi tidak menjadikan ban donat sama sekali.
Pelajaran berharga: sedia jas hujan!
Saltum banget di kedinginan Puncak tapi hanya pake celana pendek, jersey ketat lengan pendek.
Masih untung bawa kacamata anti kabut :p
xixixi…

This slideshow requires JavaScript.


Responses

  1. Mantapp Om, Kpana diulang…buat refreshing,jgn nandjak mulu😀

    • tetep enakan nandjak tuk:p lain kali jangan banyak2 rombongannya, lalu gowes dari Gadog😀

  2. Ini gowes, yang abisannya trisep lo bermasalah ya, Dhan?🙂

    • Iya betul Nggi. Buat nandjak aja sakit, gimana buat turun, Akhirnya istirahat sejam sampe trisepnya udah ga terlalu sakit lagi:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: