Posted by: dhanichagi | June 6, 2011

JKT-Likeminister-JKT

Kapten Bimsky

Gara-gara mau gowes Jakarta-Likeminister PP, semalaman ga bisa tidur!😀
Norak amat yak? Soale kemungkinan ini terakhir saya gowes jauh karena harus jadi suami SIAGA.

Likeminister? Apa itu?
Likeminister alias Sukamantri ialah wana wisata yang terletak di desa Sukamntri , Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor dengan ketiggian 899m dpl, konfigurasi lapangan pada umumnya bergelombang. Kawasan ini mempunyai curah hujan 4000mm/tahun dengan suhu udara 25C.

 

Minggu, 6 Juli pukul 5 lewat dikit udah disms Om Agus Jamal bahwa dia sudah nunggu di lampu merah Departemen Pertanian.
Wahduh saya malah baru jalan. Akhirnya kita gowes ngebut dan sampe juga di meeting point Komplek PU.

Ada Om Jali, Om Bimsky, dan Om Geza yg hanya gowes sampe Ciputat.
Meeting point selanjutnya di Perempatan Gaplek, sudah menunggu banyak Roselaers.

Pukul 6.20 kita mulai gowes menelusuri jalan Parung. Jalan yang lenggang dan lebar sangat nikmat untuk digowes sambil menikmati pemandangan di Parung (pemandangan motor seliweran:p)

Tapi kok temen-temen Rosela pada ngebut-ngebut amat yak?
Pake gear depan paling gede, dan gear belakang nomor 4 dari bawah dengan kecepatan 28 kmh masih belum bisa ngejar Om Bimsky, padahal dia gowes ngicik lho…

Yo wislah saya gontai aja.. Gowes santai.

Pukul 8.30 kita sampai di Bogor dan tampak muka lelah karena digeber sepanjang jalan dengan istirahat 2 kali.
Sarapan dulu lalu kita melanjutkan perjalanan menuju Sukamantri.
Hanya tujuh orang yang melanjutkan perjalanan menuju tandjakan Sukamantri.

Seperti biasa dari arah Bogor, kita menuju Ramayana-Empang-dan pertigaan Ciapus.
Sepanjang tandjakan 7 km jalan aspal Ciapus satu per satu mulai tercecer… Sementara Om Bimsky dan Om Jali ngaciiiiirrrrr meninggalkan 5 orang lainnya.

Jalan Ciapus ini sebenarnya nandjak landai tetapi seninya ada di angkot. Lho kok angkot?
Iya angkotnya suka berhenti mendadak dan bikin kita nanggung nandjak. Lagi semangat-semangat nandjak, lalu angkot berhenti. Terpaksa kita juga berhenti nunggu penumpang turun atau ngebalap angkot.

Keringet mengucur deras dan 100 meter terakhir diakhiri dengan gowes ngicik…
Sampe juga di pertigaan Ciapus menuju Sukamantri, sementara Om Bimar dan Om Jali terkapar.

Ga begitu lama datang Om Agus, Koh Asan, Om Eka Blueman group, dan Om Sabat yang pake sepeda rigid:D

Pocari Sweat langsung kita tenggak. Trauma banget kena kram, makanya banyak-banyak minum air dan diselingi minum Pocari.

Mulai menandjak di aspal alus dan lagi-lagi Om Bimar dan Om Jali ngacirrrr…
Lagi nandjak, sempet-sempetnya kita foto-foto dulu orang yang lagi ngap-ngapan nandjak😀

Sewaktu di aspal mulus masih bisa pada senyum, tetapi semua itu berubah dalam waktu 30 menit kemudian:p

Aspal mulus ini cuma beberapa ratus meter saja, sisanya jalan makadam yang sangat maknyusss…
Awal dari makadam ini batu-batu lepas yang masih bisa dilalui dengan ngicik dan ngatur nafas supaya ga boros.
Enam tahun yang lalu lewat sini dan tiap 20 meter berhenti untuk istirahat.
Sampai pernah berjanji ga akan mau gowes nyiksa diri ke Sukamantri lagi:p
Wakakaka…

Beruntung cuaca Minggu siang ini berawan, padahal biasanya panas menyengat.
Bikin perjalanan nandjak lebih menyiksa.
Oia apalagi Om Sabat yang pake sepeda rigid dan Om Agus yang pake Federal besi jadul.
Kebayang dong nandjak makadam pake sepeda besi?
Groupset Tourney dan ban semi slick pula. Mantab Om Agus!

Sampai juga kita di meeting point Warung Tutup. Nge teh dan makan pisgor dulu ah…
Denger kabar dari Teteh Penjaga Warung Tutup klo jalan makadam ini akan diaspal:(
Memang sebagian jalan sudah dikasih batu-batu kecil. Wah sayang sekali klo Sukamantri diaspal, jadi ga ada tantangannya lagi gowes kesini.
Mungkin ga ya ajak anak nanti nandjak ke Sukamantri?:D
kekeke…

Cukup istirahat di Warung Tutup, menuju tantangan selanjutnya yaitu makadam yang sudah padat dan batu yang lancip.
Inilah tantangan Sukamantri yang paling hebat.
Makadamnya udah padat, banyak rumput serta batu makadam yang licin.

Kesulitan untuk mengendalikan ban sepeda, butuh controlling yang bagus supaya ban depan dapat terus melaju.
Selain memperhatikan ban depan, grip dari ban belakang juga jangan sampai meleset. Berat badan sedikit kebelakang untuk menambahkan berat di ban belakang.

Susah payah akhirnya sampai di Gerbang Kujang Raider. Gerbang yang bertuliskan Kujang Raider, tandanya Sukamantri pernah dijadikan tempat latian militer. Tapi selama saya kesana, ga pernah liat ada tanda-tanda alat-alat latian militer. Menurut info, letak latiannya berada di belakang warung Teh Kon.
Coba lain kali kita telusuri:D

Memasuki kelok 12 hutan pinus, udara berubah menjadi sejuk. Tandjakan landai berkelok yang ditutupi oleh rindangnya hutan pinus, menjadikan rasa letih berkurang.
Tetapi karena pohon yang tinggi dan padat, maka cahanya matahari tidak sampai ke jalan makadam. Hal ini menyebabkan jalan menjadi licin ke sisa hujan tadi malam.

Disini nampak kegigihan Om Agus yang pake sepeda besi Federal dan fork RST Capa serta RD Tourney 6 speed, 28T-28T!
Ga bisa ngicik karena rasio gear yang terlalu besar dan sepeda besi yang berat dan kaku membuat tandjakan lebih berat lagi.
Saya sendiri ga bisa klo disuruh tukeran sepeda:p
Pake kanondel aja keringet udah ngucur dan baju bisa diperas apalagi pake sepeda besi:D
hehehe…

Perlahan-lahan kelok demi kelok kita lalui. Sesekali gowes dengan power jika menemui batu yang besar dan sulit untuk dilalui. Ban yang selalu meleset, membuat kita harus ekstra hati-hati dalam controlling dan mengatur berat badan.
Nafas yang terengah-engah membuat kita berfikir ini saatnya untuk pencet rem dan mulailah TTB.
Tapi tidak!
Selama jantung belum dag dig dug dan kaki belum terasa kram, harus nandjak terus…!

Haussss…!
Gimana caranya di makadam bisa ambil b-don?
Gampang aja. Turun dari sepeda lalu minum deh:p
Hihihi…
Tapi ada tekniknya untuk minum tetapi terus gowes di tandjakan makadam. Gowes perlahan dengan ngicik dan cari kontur batu yang tidak terlalu terjal, lalu buru-buru minum deh:D

Sampai juga di pintu gerbang Sukamantri!
Langsung ngacir menuju warung Teh Kon tapi orangnya ga ada:(
Yo wis ke warung sebelahnya dan pesen nasi, ceplok telur, bawang goreng dan kecap:D
Sementara temen-temen yang lain melahap semangkuk indomie telur dan nasi….
Mencoba ga makan indomie sejak nikah. Kira-kira bisa bertahan selamanya ga ya?:D
hehehe…

Dari Sukamantri, kita bisa melihat pemandangan Kota Bogor. Sayangnya suasana saat itu berkabut, sehingga pemandangannya tertutup. Monyet-monyet yang biasa berkumpul di dekat warung juga cuma sedikit. Pada kemana yak?

Setelah makan, sholat, dan beristirahat, saatnya kita pulang.
Rencana lewat air terjun dan kebon nanas terpaksa dibatalkan karena Om Agus mendadak disuruh masuk, dan pukul 18 harus udah di kantor.
Walah langsung aja kita ngacir turun lewat makadam pukul 13.30.

Sayang sekali, padahal bisa foto-foto di air terjun yang airnya dikit serta sedikit trekking di jalur pendakian.

Oia ada kejadian unik di Sukamantri. Entah kenapa kok banyak tawon disana. Om Sabat diikutin kemana-mana, dan Koh Asan dengan sigapnya mengambil botol aqua lalu siap menyambit tawon beserta Om Sabat:p

Perjalanan turunan makadam menjadi momok semua orang. Karena semua sepeda kita hardtail yang menyebabkan sepeda bergetar. Tapi cuek aja, bablas turun terus dan jarang ngerem supaya cepet sampa bawah.

Nah ini dia yang hebat, Om Sabat pake sepeda rigid aluminium dan tampak kesulitan melahap turunan makadam. Pastinya telapak tangan, otot lengan dan bahu pada sakit menahan benturan getaran makadam.
Harus latian push up yang rajin nih:D
Begitu pula Om Agus yang pake sepeda besi. Framenya mental-mentul ga bisa meredam getaran.

Alhamdulillah semua selamat sampe jalan raya Ciapus dan langsung kita menuju Kota Bogor.
Di depan Istana Bogor kita berpisah, Om  Bimsky, Om Jali, Koh Asan, Om Sabat, dan Om Eka melalui Parung, sedangkan saya dan Om Agus Jamal menelusuri pinggir rel kereta.
Digeber dengan kecepatan 25 kmh non stop selama 2 jam, bahkan ga berhenti untuk sekedar beli air minum yang sudah abis. Gowes kayak ngejar absen, ngebut abissss….
Start dari Bogor pukul 15.00 lalu sampe rumah pukul 17.00.

Catatan bagi yang ingin gowes Bogor-Jakarta.
Jalur menelusuri pinggir rel sangat tidak rekomen. Beda banget sama 3-4 tahun yang lalu dimana jalur ini sepi… Macet hanya di Pasar Citayam.
Sekarang jalur ini banyak angkot dan sangat macet di persimpangan rel kereta dan di stasiun.

Untuk liat GPSnya bisa intip di http://www.everytrail.com/view_trip.php?trip_id=1125430

Capek banget, udah lama ga gowes lebih dari 100 kilometer. Hari Seninnya sampe ga kepengen gowes ke kantor saking letihnya:p

Nemu trit di Kaskus tentang Sukamantri: http://archive.kaskus.us/thread/865643/

Sampai jumpa di trip nandjak selanjutnya!
Semoga visa lancar:D

This slideshow requires JavaScript.

 


Responses

  1. mantabbb neh Jali pake jersey mtb-Rockers🙂
    Thx

    • saya mau dong disponsori jersey MTB Rockers :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: