Posted by: dhanichagi | May 18, 2011

Tante Dokter Aristi, Preambule to Paseban

With Tante Dokter Aristi. Tebak yang mana orangnya?:p

Wah wah wah judulnya bikin penasaran yak?:p

Trip to Paseban diwarnai dengan awal perjalanan yang manis.
Lagi keringetan nandjak Sarimande Gadog, lalu papasan dengan cewe yang lagi minum Pocari Sweat.
Awalnya karena kriyep-kriyep nandjak, ga jelas ini cewe atau cowo. Setelah mendekat dan kemudian baru sadar klo ada cewe berambut pendek pake MTB rigid hitam dengan rak Topeak Super Tourist DX lengkap dengan tas panniernya.

“Mau kemana tant?”, sapa saya sambil terus menggowes Kanondel.

“Ke Megamendung”, jawabnya singkat.

Lanjut gowes menelusuri Jalan Raya Puncak. Beberapa menit kemudian nengok ke belakang untuk memastikan Om Abdu tetap mengikuti saya, ternyata tante misterius tadi sudah menempel ketat Om Abdu.

Sengaja saya pelankan kayuhan dan gowes ngicik untuk memberi jalan ke tante ber MTB rigid.
Wuzzzz langsung dibalap dan pake crank terbesar untuk berusaha mengimbanginya.

Goweslah kita beriringan dan saya memulai pembicaraan.

“Tante yang ikutan gowes ke Jepara ya?”.
“Iya benar”, jawabnya sambil tersenyum.
Wah tebakan yang tepat, bisik saya dalam hati.
“Namanya siapa tant?”
“Aristi”
“Yang dokter itu ya?”
“Iya”

Wuiiih tebakan saya lagi-lagi benar:D
Lanjutlah kita ngobrol beriringan bercerita seputar sepeda.
Sampe hampir lupa nengok ke belakang untuk memastikan Om Abdu tetap bersama rombongan. (Becanda tuk:D)

Tante Aristi ialah seorang dokter spesialis touring:p
Perempuan mungil, manis, dan berkulit putih ini pernah ber bikepacking Malaysia-Vietnam dan China tahun 2010 lalu.
Rencana touring selanjutnya pada bulan September tahun ini bersama legenda bikepacker, Om Paimo, menuju Paris-Mont Blanc.
Tiga hari bersepeda kemudian dilanjutkan hiking ke puncak Mont Blanc.

Walaaah angkat helm sepeda untuk Tante Dokter Aristi!

MTB rigid, bar end, Rak Topeak Super Tourist DX, dan sadel WTB

Dokter yang masih single dan berdomisili di Bogor ini walau sangat hobi long distance relationship cycling, ternyata ga suka tandjakan. Wahduh harus kasih ratjoen nomor satoe untuk dapat menikmati tandjakan.

Tak terasa obrolan tadi harus berakhir ketika saya dan Om Abdu harus belok kiri ke Cilember.

Setelah foto bersama dan beli Pocari Sweat, lalu kita berpisah dan Tante Dokter Aristi melanjutkan kayuhannya menelusuri Jalan Raya Puncak.

Suatu kehormatan bisa bersepeda bersama perempuan, seorang dokter, yang sangat menikmati touring. Sampai berjumpa lagi Tante Dokter Aristi!

Tiga botol Pocari Sweat dan sebungkus Rodeo kita bungkus sebagai perbekalan menuju Paseban.
Rodeo apaan tuh?
Niatnya beli Oreo tapi kok yang diambil malah Rodeo??
Ah..ini ga konsen gara-gara…..

Om Abdu, Tante Dokter Aristi, Dhanichagi

Nandjak Paseban (1.300 mdpl)

Jalan Cilember yang merupakan aspal mulus cukup bikin ngos-ngosan. Tandjakan yang cukup curam dan berkelok membuat kita harus mengambil nafas berkali-kali.
Malahan kita sempet diarak oleh anak-anak setempat.

“Mau kemana om?”
“Ke Paseban.”, sahut saya.
Anak-anak: “Luhur.”
*opooo artine luhur??*

Sepanjang jalan terlihat pemandangan Kota Bogor dan pegunungan yang indah. Tak henti-hentinya kita berhenti di tengah tanjakan untuk mengambil gambar. (alesan, padahal ga kuat nafasnya ditanjakan)

Pit stop pertama di warung pertigaan antara Curug Panjang dan Paseban. Makan bekal pisang dan menenggak Pocari Sweat.
Sekitar 15 menit, kita kembali melibas tanjakan yang super panjang.

Seperti biasa teknik melahap tanjakan:
– pantat di ujung sadel
– berat badan di pinggang
– badan ke depan nyosor kayak soang.
Walau handling ban depan berkelak-kelok, yang penting lulus:p

Memasuki daerah yang ga ada rumah penduduk dan aspal rusak lalu menuju makadam.
Tanjakan-tanjakan lucu makadam membimbing kita menuju suatu penginapan atau resort yang sedang dibangun.

Nandjak lagi dan kemudian ketemu tanjakan mustahil…

Karakter tanjakan mustahil ini sepanjang kurang lebih 50 meter, makadam, dan sudut yang sangat curam.
Coba sekali dan baru 1/4 nya malah nuntun:(
Lagi asyik-asyik nuntun, anak kecil yang daritadi memperhatikan kami bilang bahwa ada beberapa orang yang lulus di tanjakan ini!
Aje gileee….

Karena penasaran, Om Abdu mencoba lagi hingga 2 x. Namun usahanya tadi hanya mencapai 3/4 tanjakan.
Sedangkan saya?
Cukup mencoba lagi lain kali saja:p

Masih ada beberapa tanjakan makadam yang pendek dan curam hingga akhirnya kita sampai juga di lapangan Paseban.

Lagi-lagi seluruh warung di Paseban tutup:(
Alhamdulillah masih ada satu buah pisang di saku jersey dan ini menjadi pisang terenak di dunia (padahal dah bonyok kepentok)

Sekitar 20 menit beristirahat, kita memutuskan melanjutkan jalan makadam sekitar 300 meter nandjak dan berakhir di perkebunan organik.
Tampaknya pengelola perkebunan tersebut orang bule. Di Tanjakan Mustahil tadi, kita disusul oleh bule nandjak dengan Toyota Hilux Double Cabin.

Hanya berfoto sebentar, kita balik kanan pulang melalui Curug Panjang.

Curug Panjang-Sarimande Gadog

Dari Paseban menuju Curug Panjang melalui single track makadam dan nembus ke pintu belakang. Hanya numpang melintas, kita lolos dari petugas tiket yang biasanya mencegat walau hanya permisi lewat Curug Panjang.
Waktu menunjukan pukul 12 dan kita makan di warung nasi depan Pusdik Reserse Polri.

Setelah menghabiskan ikan kembung yang garing dan lezat (efek lapar) serta sholat Zuhur, kita lanjut menuju Megamendung melalui jalan yang baru saja di beton:(

Sangat disayangkan, jalan yang tadinya tanah dan makadam telah berubah jadi semen…
Perjalanan sepanjang Curug Panjang-Megamendung full turunan dan bikin tangan pegel.
Memasuki Gunung Gelius Resort, ban Om Abdu kempes kena staples.
Ganti ban dulu deh. Ga berapa lama, ban sudah diganti dan ketika hendak difoto, apesasss…
Ban dalam cadangan bocor meletus mendadak dan ternyata ban dalam tersebut sudah 4x ditambal:(

Tuk tuk…

Ganti ban lagi, lalu kita lanjut melalui single track tanah yang uhuy dekat peternakan ayam.
Blasak blusuk ga tau jalan, akhirnya nembus juga pinggir tol Jagorawi dan kemudian menuju Rest Area Ciawi.

Perjalanan nandjak yang sangat mengesankan.
Bukan karena tanjakannya yang kering dan asoy tapi karena sudah diawali Preambule yang bikin semangat:D

Oia catatan tersendiri, nandjak ke Paseban tidak terlalu lelah tapi pulangnya itu turunan tiada tara yang bikin tangan pegal-pegal.

Untuk napak tilas, silahkan telusuri

Sarimande-Paseban-Curug Panjang-Sarimande

http://www.everytrail.com/swf/widget.swf

image

image

This slideshow requires JavaScript.


Responses

  1. Mantab Om… Nice story…
    Sayang gak bisa ngikut….
    Keluar kota euy…,
    (Nyobain tanjakan Dieng..)
    Kalo nanjak lagi kabar2i ya…
    TKS

    • Siap om! Wuiiih mantab banget nandjak ke Dieng. *mupeng* Saya malah ga sempet2 mau ikutan nandjak ke Dieng. Tiga kali diajak Mbah WTT tapi ga bisa melulu:p hehehe…

  2. wihh ketemu tante aristi.. asik bener sedirian jalan …

    • Bogor-Megamendung ga pake b-don pula. Cuma bawa botol Pocari Sweat *bingung buka botol klo lagi gowes*

  3. Aihh.. itu parah kali tanjakannya sampe harus gowes zig-zag… kang, kalo ke sumsel, nanti diajakan ke tanjakan dempo… so far yg lulus cuma 2 orang (itu juga atlet issi) hihihi

    • Wah Gunung Dempo tempat PON dulu itu ya? Mantab tuh klo denger cerita2 Tante Hani (alumni ISSI Banten)😀

  4. anda penggowes sejati

    • saya penggowes kanondel om:p hehehe…

  5. Don Hasman
    Save Our Soul. SOS SOS SOS. Ini permohonan benaran. Ditujukan khusus kpd para dokter THT. Di kampung Tangtu Cibeo (Baduy Dalam), lima minggu terakhir sekitar 60 s.d 70 orang anak terjangkit wabah penyakit batuk menular yg disertai demam panas sehingga gemetaran. Umumnya menyerang anak-anak. Sudah 4 orang anak meninggal (Arniah, 1 th., Kasbah, 1 th., Sanuri 2 th dan Arti 6 th.) Dlm beberapa hari mendtg kemungkinan akan lebih banyak korban. Pengobatan yg tlh diberikan terbatas pada belasan ramuan obat tradisional Baduy yg terdiri dari tumbuh2an.
    Diperkirakan mereka terjangkit batuk “whooping Cough”. Diperkirakan di dlm tenggorokan mereka banyak lendir/dahak. Kalau batuk sampai muntah.
    Bagi yg tahu dan bisa menghubungi dr. Aristi di Bogor, sdh dikenal baik oleh para petinggi kpg Cibeo, tlg secepatnya mendiagnose dan membawa obat2annya.
    Terima kasih kepada yg menaruh perhatian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: