Posted by: dhanichagi | April 25, 2011

Paseban, Satu Level di Atas Curug Panjang

Judul postingan di atas bukan berarti meremehkan tingkat kesulitan Curug Panjang ya.
Tapi memang benar! Hehehe…

Curug Panjang yang sekarang sudah dicor dan aspal, makin ‘meringankan’ tantangan nandjak. Akan tetapi Paseban dapat dijadikan alternatif jika ingin tantangan nandjak yang lebih gila.

Jumat pukul 8.00 baru start dari rumah Ki Oni yang menjadi guide dalam perjalanan ini. Kayaknya Ki Oni melulu yang jadi guide perjalanan di blog ini :p
kekeke…

Rencana start pukul 7.30 tertunda karena ternyata Om DJ Aroth gowes dari Jakarta:D

Sedangkan saya dan Om !yunk Korwil Rogad naik mobil dan parkir di rumah Ki Oni (yang sangat kita sesalkan karena pulangnya kena macet di Cimanggis, tau gitu gowes atau naik kereta aja)

Melewati belakang rumah Ki Oni langsung nembus ke Bendungan Katu Lampa yang biasa kita liat di tipi-tipi klo ada banjir di Jakarta.

Blasak blusuk lalu nembus ke Sarimande, rest area tol Ciawi dan melipir sepanjang tol sampe nembus ke Jalan Raya Puncak.

Diputuskan lewat jalan raya karena untuk menghemat waktu mengejar Sholat Jumat.

Setelah nandjak Jalan Raya Puncak selama satu jam, ketemu Indomart terakhir dan mengisi perbekalan dengan 2 botol Pocari Sweat supaya bisa nandjak kayak Irfan Bachdim:p

Om !yunk menunggu Ki Oni dan DJ Aroth

Belok kiri menuju Cilember, lalu menelusuri jalan mulai menandjak lagi dan semakin tinggi. Diselingi 3 kali istirahat, lalu kita mengambil nafas yang cukup lama selagi menunggu Om DJ Aroth di sebuah kedai minum di tengah hutan pinus. Ternyata ada jalan pertigaan, jika kita belok kiri makan akan langsung nembus ke Curug Panjang. Ga kerasa kita sudah sejajar Curug Panjang dan mulai melanjutkan perjalanan yang dihiasi jalan aspal dan semen rusak menuju Paseban.

Deng baru jalan sebentar, tanjakan panjang sudah menanti kami.

Ki Oni melahap tanjakan panjang

Butuh istirahat satu kali untuk menaklukan tanjakan ini. Takut jantung meledug, mending main aman aja ah…
Klo udah dag dig dug sampe jantung tampak kedengeran di kuping, waktunya istirahat.
Istirahat disini bukan berarti TTB lho,,, Tapi ambil nafas sebentar dan lanjut gowes lagi walau awalannya lebih berat karena start lagi dari jalanan yang udah miring.

Om Iyung melesat di tanjakan panjang

Ketinggian saat ini baru mencapai 800an meter dpl. Setelah ngambil nafas sebentar dan melihat jam ternyata sudah pukul 11.00 kita langsung bergegas nandjak maning…

Mulai memasuki makadam, hujan rintik turun. Sepuluh menit kemudian hujan menjadi deras dan mengakibatkan tanjakan makadam menjadi licin.

Pemandangan yang indah tersapu ujan yang cukup deras. Kabut  menutupi sebagian Bukit Paseban. Jalan yang sepi dan hampir ga ada orang lewat, di kanan terdapat tebing dan disebelah kiri lembah yang menganga. Beberapa meter jalanan tampak pernah longsor dan seperti baru diperbaiki.

Kemudian tanjakan makadam curam mungkin panjangnya sekitar 70 meter, ujan, licin pula telah menunggu kami. Klo jalannya kering mungkin juga teteb TTB disini:p

Sudah menunjukkan pukul 11.30 dan kita masih ambil nafas di tanjakan ini. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang manggil mempersilahkan untuk berteduh di rumahnya. Saat kami tanya masjid dimana, beliau bilang masih lumayan jauh.

Langsung kita pamit dan ngibrit nandjak lagi!

20 menit kemudian nampak sebuah masjid kecil dan kolam bak yang besar untuk mengambil air wudhu. Setelah memeras baju yang basah kuyup, kita ganti kostum pake baju koko dan sarung lalu mulai mengikuti Sholat Jumat.

Baru sadar ternyata khutbah Jumatnya pake bahasa arab dan cuma Ki Oni doang yang ngerti artinya:p
wakakakaka…

Selesai sholat, kita ngobrol dengan Pak Andang, penduduk setempat yang biasa ditemui Ki Oni klo gowes ke Paseban. Lalu kita memutuskan kembali menerabas hujan demi memperoleh sepiring nasi karena waktu sudah menunjukan pukul 13.00 dan kami belum makan:(

Nandjak lagi sekitar 30 menit tanjakan makadam akhirnya ketemu warung dua biji!
Sayangnya warungnya tutup semua:(
Huhuhu…

Disinilah titik finish yaitu Lapangan Paseban, ketinggian sekitar 1350 meter di atas permukaan laut. Tadinya jika ada warung makan disini, kita mau lanjut lagi ke atas. Akan tetapi diputuskan untuk balik kanan dan pulang melalui jalur yang berbeda lewat Curug Panjang.

Tanjakan-tanjakan yang curam dan licin tadi kita libas semua dengan kecepatan tinggi, bukan karena PD ngebut dan balas dendam diturunan tapi karena rem depan yg udah mau abis serta ban yang hampir rata menyebabkan sepeda melaju dengan cepat.

Modal percaya diri yang pas-pasan, handling seadanya dan menggenggam handle bar dengan erat, kita sampai juga di jalur single track menuju Curug Panjang.

Ketemu warung dan langsung pesan makaaan!
Cuma ada telur dadar dan nasi, yowis lah dinikmati aja. Sarapan sama makan siang dengan menu yang sama:D

Setelah maksi, kita lanjut pulang lewat rute Curug Panjang-Gunung Geulis-Sarimande-Rumah Ki Oni.

FYI jalur kuil udah ga bisa dilewatin lagi karena ada oknum yang turunin tangga kuil dengan sepeda:(
Yah sayang banget ga bisa nikmatin tanjakan semen yang aduhai bikin ngesat ngesot…

Jalur pulang yang dulunya makadam, telah berubah menjadi cor-coran serta aspal rusak. Turunan mah ga penting:D

Hajar terus dan pukul 15.45 sampai juga dirumah Ki Oni.

Oia Motorola Defy masih idup sampe sekarang setelah di pake foto-foto pada saat hujan dan kegoncang disaat turunan makadam serta kena keringet karena ditaro di kantong belakang jersey
hihihi,,,

Thanks a lot Ki Oni, Om !yunk, dan DJ Aroth! Lain kali kita ulangi sampe tembus Pondok Pemburu!
*tengil*


Responses

  1. kudu ulang lg nih….🙂

    • yuk ulang sampe nembus Pondok Pemburu. Tapi visanya yg repot nih:(

      • Waduh… jadi ngiler…
        Kalau ngulang ikut ya…

      • siap om! pantengin aja milis 1pdn-cycling@yahoogroups.com🙂

  2. eh keren bgt ya🙂

    • Om Handrias sayang banget ga ikut, Om Dj Aroth ternyata gowes dari Pondok Cabe. Next time ya!

  3. wah, kayaknya menyenangkan bisa ngerasaian tanjakan yang begituan. Sayangnya ane blum pernah nyobain, hiks…

    Kapan2 bagi informasi tentang nanjak Om..

    hehehe

  4. Week end kemarin cobain Paseban dan Curug Tujuh Cilember pakai sepeda hibrid, sehubungan dengan aku baru pemula di kelas B2W dan yang ada nuntun sepeda ke Paseban, tanjakannya seolah tiada henti.

    • wuiih mantab om! pake hybrid bisa bergetar terus sampe Jakarta ngelahap turunan panjang makadam:p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: